“Program ini bukan hanya membantu mengatasi genangan air, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Kami berharap warga dapat meneruskan program ini secara mandiri sehingga manfaatnya semakin luas,” kata Suminto.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kelompok 4 UNISLA, Dr. Emalia Nova Sustyorini, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa biopori merupakan salah satu metode konservasi air yang efektif dalam meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan. Dengan meningkatnya infiltrasi air, risiko genangan maupun banjir dapat ditekan sekaligus membantu menjaga ketersediaan cadangan air tanah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia menambahkan, pemanfaatan sampah organik sebagai isi lubang biopori memberikan nilai tambah karena proses penguraiannya menghasilkan kompos alami yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman.

“Biopori menjadi solusi yang mengintegrasikan konservasi air dengan pengelolaan sampah organik. Selain mengurangi limpasan air hujan, metode ini juga membantu mengurangi volume sampah organik yang selama ini sering dibuang begitu saja,” jelas Dr. Emalia.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UNISLA tidak hanya menghadirkan inovasi teknis, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan sejak dari hal-hal sederhana. Pendekatan yang mengedepankan partisipasi warga diharapkan mampu menciptakan budaya peduli lingkungan yang terus berkembang setelah masa KKN berakhir.

Keberadaan biopori di Desa Sukorejo menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat mampu menghasilkan program yang memberikan manfaat nyata.

Dengan biaya yang relatif terjangkau, teknologi sederhana ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam mengatasi persoalan genangan air, mengelola sampah organik, serta mewujudkan lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2