Menurut Umam, belum optimalnya kunjungan wisata ke Bromo tidak lepas dari faktor daya beli masyarakat yang masih terbatas. Ketidakpastian ekonomi global dinilai turut memengaruhi keputusan masyarakat dalam membelanjakan dana untuk berwisata.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selain itu, jarak waktu yang berdekatan antara libur Natal dan Tahun Baru dengan bulan Ramadan serta Idulfitri 2026 membuat sebagian masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

“Masyarakat tampaknya lebih memilih menahan belanja wisata karena libur besar berikutnya sudah dekat,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pariwisata pascapandemi masih berjalan bertahap. Aktivitas wisata tetap berlangsung, namun belum sepenuhnya agresif dari sisi volume kunjungan maupun perputaran ekonomi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski demikian, jip wisata tetap menjadi ikon dan daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Gunung Bromo. Hingga kini, belum terlihat perubahan preferensi wisatawan terhadap moda transportasi khas kawasan tersebut.

“Naik jip ke Bromo masih menjadi pengalaman utama yang dicari wisatawan,” kata Umam.

Pelaku usaha berharap adanya kebijakan yang mampu mendorong daya beli masyarakat serta memperpanjang lama tinggal wisatawan, sehingga dampak ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat lokal.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2