“Seluruh fasilitas dan alokasi anggaran ini didedikasikan murni untuk kesejahteraan rakyat. Sepanjang tahun ini, ketersediaan stok bibit masih sangat memadai dan siap untuk segera disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan,” imbuhnya.
Selain menyoroti sektor hulu melalui pemberdayaan pesantren, Mentan Amran juga memaparkan peta jalan hilirisasi komoditas pertanian nasional. Pemerintah kini fokus memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan pada produk-produk turunan seperti kelapa sawit, minyak goreng, hingga komoditas peternakan ayam dan telur. Hilirisasi dipandang sebagai kunci utama agar rantai nilai ekonomi pertanian tidak berhenti sekadar pada hasil panen mentah, melainkan mendatangkan margin keuntungan yang lebih besar bagi masyarakat luas.
Tidak ketinggalan, dalam kesempatan yang sama, pemerintah juga memaparkan progres perluasan lumbung pangan baru di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Program cetak sawah dan optimalisasi lahan yang semula terkonsentrasi di wilayah Papua Selatan kini telah meluas secara signifikan ke berbagai daerah lain seperti Papua Pegunungan, Papua Tengah, hingga Papua Barat Daya, menyusul tingginya aspirasi dan permintaan langsung dari masyarakat setempat.
“Saudara-saudara kita di Papua juga memiliki hak dan kebutuhan yang sama atas kesejahteraan hidup. Bahkan, mereka secara proaktif meminta tambahan lahan pertanian guna mendongkrak taraf hidup mereka. Hal inilah yang terus kami dorong secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Melalui sinergi lintas sektoral yang merangkul pondok pesantren, elemen umat Islam, serta masyarakat luas, Kementan optimis basis produksi pangan nasional akan semakin kokoh, sekaligus mampu mengakselerasi pemerataan ekonomi berkeadilan di seluruh penjuru tanah air.





