Mayoritas distribusi sapi kurban dari koperasi tersebut dikirim ke wilayah perkotaan seperti Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo yang setiap tahunnya memiliki permintaan tinggi terhadap hewan kurban berkualitas.
“Alhamdulillah, penjualan tahun ini meningkat cukup tajam. Meskipun harga sapi mengalami kenaikan, minat masyarakat tetap tinggi,” ujar Suparto.
Ia menjelaskan, harga sapi kurban tahun ini mengalami penyesuaian dari sebelumnya sekitar Rp58.000 per kilogram bobot hidup menjadi Rp62.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pakan dan perawatan ternak. Namun demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli hewan kurban.
Suparto juga menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah daerah dan Dinas Peternakan yang terus memberikan pendampingan kepada para peternak, terutama dalam menjaga kesehatan hewan ternak.
Menurutnya, program vaksinasi gratis Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta layanan inseminasi buatan (IB) gratis sangat membantu para peternak dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas sapi.
“Program vaksin PMK dan inseminasi buatan gratis sangat dirasakan manfaatnya oleh peternak. Kesehatan ternak lebih terjaga dan kualitas sapi juga semakin baik,” ungkapnya.
Di akhir kunjungannya, Khofifah memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan yang dinilai berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan dan sentra peternakan sapi terbesar di Jawa Timur.
Ia berharap informasi terkait keamanan dan kesehatan hewan kurban di Jawa Timur dapat tersampaikan secara luas kepada masyarakat, sehingga kepercayaan publik terhadap kualitas ternak lokal semakin meningkat.
“Lamongan memiliki potensi peternakan yang luar biasa. Kami berharap suplai sapi kurban dari Jawa Timur tidak hanya mencukupi kebutuhan daerah sendiri, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan nasional,” pungkas Khofifah.






