Jika tidak mampu menyesuaikan diri, kata dia, media massa berpotensi menghadapi tekanan bisnis yang semakin berat di tengah persaingan industri informasi.
“Adaptasi penting, tetapi jangan sampai mengorbankan kualitas. Justru di tengah perubahan ini, jurnalisme berkualitas harus menjadi kekuatan utama pers,” tegasnya.
Munir juga menyinggung tantangan internal dunia pers, seperti bertambahnya jumlah media baru dan ketatnya perebutan pendapatan iklan. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi mutu pemberitaan apabila tidak disikapi secara profesional.
Untuk itu, ia meminta seluruh insan pers tetap menjadikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman utama dalam menjalankan tugas. Dengan memegang teguh etika profesi, marwah pers akan tetap terjaga sekaligus memperkuat keberlangsungan industri media.
Sementara itu, Ketua PWI Jawa Timur, Lutfi Hakim, menyampaikan bahwa momentum Hari Pers Nasional hendaknya menjadi refleksi bersama bagi seluruh wartawan untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme.
Menurutnya, wartawan dituntut terus belajar mengikuti perkembangan teknologi, memperdalam kemampuan jurnalistik, serta menjaga integritas dalam setiap proses peliputan.
“Setiap hari kita harus meningkatkan kompetensi dan menjadi wartawan yang memegang teguh kode etik jurnalistik,” ujar Lutfi.
Peringatan Hari Pers Nasional 2026 dan HUT ke-80 PWI Jawa Timur dihadiri ratusan insan pers, pejabat pemerintah, akademisi, dan tokoh masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran pers sebagai pilar demokrasi serta penjaga kepentingan publik di tengah era digital yang terus berkembang.





