BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Lonjakan harga plastik yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai memberikan tekanan serius bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Lamongan.
Kenaikan yang mencapai hingga dua kali lipat tersebut tidak hanya membebani biaya produksi, tetapi juga memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga jual di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Suhardi, salah satu pelaku UMKM di sektor kuliner, mengaku terdampak langsung oleh kenaikan harga tersebut. Ia menyebutkan bahwa biaya pembelian plastik yang sebelumnya sekitar Rp9.500 kini naik menjadi Rp15.000. Kenaikan ini memaksanya untuk menaikkan harga jual produk agar tetap memperoleh margin keuntungan.
“Kalau tidak dinaikkan, kami bisa rugi. Tapi kalau dinaikkan, kami juga khawatir pembeli berkurang,” katanya, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini menjadi dilema bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas harga bahan baku. Di satu sisi mereka harus menjaga kelangsungan usaha, namun di sisi lain harus mempertimbangkan kemampuan beli konsumen.
Pantauan di sejumlah titik perdagangan, termasuk Pasar Baru Lamongan, menunjukkan bahwa hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. Produk berbahan Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP) yang umum digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman menjadi yang paling terdampak. Selain itu, produk turunan seperti kantong plastik, sedotan, hingga gelas sekali pakai juga ikut mengalami lonjakan harga.
Salah satu pedagang grosir plastik, Sebrian Farid Sandi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak pasca Idulfitri, namun dalam waktu singkat angkanya melonjak drastis. Ia menyebutkan, harga plastik yang sebelumnya berada di kisaran Rp11.000 per pak kini naik menjadi sekitar Rp19.000.
“Banyak pelanggan yang kaget karena kenaikannya cukup tinggi dalam waktu singkat. Bahkan ada yang menunda pembelian karena harus menyesuaikan anggaran,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada perlengkapan usaha minuman seperti gelas plastik. Harga yang sebelumnya berkisar antara Rp8.000 hingga Rp9.000 per slop kini melonjak menjadi Rp12.000 hingga Rp20.000 tergantung jenis dan kualitas. Lonjakan ini membuat pelaku usaha harus menghitung ulang struktur biaya produksi mereka.
Sejumlah pelaku usaha dan pedagang menilai lonjakan harga plastik ini berkaitan dengan situasi global, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel disebut berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia, yang merupakan bahan dasar utama produksi plastik.
Kenaikan harga minyak tersebut kemudian berdampak pada biaya produksi plastik di tingkat industri, yang akhirnya diteruskan hingga ke pedagang dan konsumen di daerah. Efek berantai inilah yang kini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM di Lamongan.
Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga bahan baku atau memberikan bantuan bagi UMKM. Tanpa intervensi, lonjakan harga plastik dikhawatirkan akan berdampak lebih luas, termasuk pada kenaikan harga produk di tingkat konsumen serta penurunan daya beli masyarakat.
Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah akan mengalami perlambatan. Pelaku usaha pun kini hanya bisa bertahan sambil berharap adanya kebijakan yang mampu meredam tekanan ekonomi yang dipicu oleh dinamika global tersebut.





