“Produksi melonjak tajam, namun kapasitas pasar dan pengepul memiliki batas. Akibatnya, terjadi oversupply yang secara otomatis menekan harga,” ujar Wahyono saat dikonfirmasi, Kamis (23/4/2026).
Selain masalah suplai, Wahyono juga menyoroti aspek distribusi. Ketergantungan petani pada pengepul lokal membuat posisi tawar mereka menjadi lemah saat terjadi lonjakan produksi. Ditambah lagi dengan kondisi ikan yang dipanen cenderung berukuran kecil dampak dari banjir yang sempat melanda tambak beberapa waktu lalu sehingga nilai jualnya tidak maksimal.
Disisi lain, Gita Dwi Amelia, seorang pedagang/tengkulak di Pasar Ikan Lamongan, mengatakan bahwa anjloknya harga terjadi merata di seluruh pelaku usaha. Ia menjelaskan bahwa banjir sebelumnya bukan hanya memengaruhi jumlah ikan, tetapi juga kualitas fisiknya.
“Banjir kemarin membuat ikan tidak bisa tumbuh maksimal, banyak yang menumpuk di satu area. Ketika panen datang bersamaan, ditambah ukuran ikan yang kecil, harga langsung jatuh,” jelas Gita.
Namun, tidak semua komoditas bernasib sama. Gita mencatat bahwa harga udang vaname masih bertahan stabil. Untuk ukuran standar, harganya berada di kisaran Rp 40.000 per kg, dan ukuran besar mampu menembus Rp 70.000 per kg. Sementara itu, untuk komoditas ikan laut, fluktuasi harga tidak terjadi separah ikan air tawar.
Meskipun saat ini petani tertekan, para pelaku usaha memandang fenomena ini sebagai siklus musiman. Gita memprediksi harga akan kembali normal atau bahkan naik menjelang akhir tahun ketika pasokan di tambak mulai menipis.
“Biasanya masuk bulan November hingga Desember, saat stok berkurang, harga akan terkoreksi naik. Bandeng bisa kembali ke harga normal di kisaran Rp 40.000 per kilogram,” tutup Gita.(Bs)





