Ia mendorong mahasiswa UMLA untuk menjadikan AI dan teknologi digital sebagai kemampuan tambahan (added value) yang wajib dikuasai untuk mengentaskan kemiskinan melalui solusi cerdas di pedesaan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menariknya, seminar ini juga mengupas sisi teknis keamanan data desa yang disampaikan oleh Ahmad Faizi, Head of IT 0320 Cyberspirit. Di tengah massifnya digitalisasi, ancaman serangan siber terhadap data kependudukan dan transaksi ekonomi desa menjadi risiko nyata. Sebagai solusi, pihaknya memperkenalkan teknologi pasca kuantum yang telah diintegrasikan dalam aplikasi komunikasi Pena Messenger.

“Kami telah membangun dua sistem enkripsi pasca kuantum di Pena Messenger. Ada Post Quantum Cryptography untuk pengamanan data transaksi, dan Post Quantum Cyber Crystal untuk membentengi sistem dari serangan di era quantum computing nanti,” jelas Ahmad Faizi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Faizi menekankan bahwa penggunaan teknologi kuantum bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk mencapai efisiensi besar-besaran dalam penggunaan infrastruktur dan energi digital. Dengan efisiensi ini, transformasi teknologi di desa dapat berjalan lebih berkelanjutan dan murah.

Kehadiran para tokoh nasional di kampus UMLA ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk menyelaraskan kurikulum akademik dengan kebutuhan riil di lapangan. Sinergi antara kebijakan pemerintah pusat, percepatan pengentasan kemiskinan, dan inovasi teknologi siber diharapkan mampu melahirkan ekosistem desa digital yang tangguh.

Penutupan seminar ditandai dengan ajakan kolektif agar lulusan perguruan tinggi tidak lagi berbondong-bondong mengejar karier di kota besar tanpa memperhatikan potensi daerah. Dengan penguasaan AI dan teknologi kuantum, mahasiswa diharapkan mampu menjadi arsitek pembangunan desa yang mampu bersaing secara global. (Bs)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2