Kegiatan inti ditandai dengan penandatanganan MoU dan MoA antara UNISLA-FEB, Pemerintah Desa Tunggul, dan Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (POKMASWA) MASKOT.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi pondasi kuat untuk membangun ekowisata berbasis masyarakat serta mengembangkan desa sebagai pusat ekonomi hijau.

Sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan, dilakukan penanaman 10 pohon Pule di depan Cawe Tuwung serta penanaman 100 pohon mangrove di kawasan Pantai Tunggul.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Aksi ini tak hanya bermakna ekologis, tapi juga menjadi representasi semangat menanam harapan bagi masa depan yang lestari.

Lebih dari sekadar aksi lingkungan, kegiatan ini juga menjadi awal dari peluncuran pengembangan ekowisata Desa Tunggul, yang dirancang untuk tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga mendidik masyarakat serta memberdayakan pelaku usaha lokal melalui pelatihan branding produk desa, penyusunan model bisnis ekowisata, hingga digitalisasi promosi wisata.

Salah satu keunggulan Pantai Tunggul adalah keberadaan kawasan mangrove alami yang potensial untuk dijadikan laboratorium alam terbuka. FEB UNISLA akan menjadikan kawasan ini sebagai sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa. Model field learning ini memungkinkan mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat dan alam, sekaligus merumuskan solusi inovatif secara interdisipliner.

FEB UNISLA juga berkomitmen menjadikan Desa Tunggul sebagai laboratorium ekonomi hijau melalui pendekatan green entrepreneurship dan socio-ecopreneurship, yang menekankan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak sosial.

Program ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk perangkat desa, tokoh lokal, mahasiswa, dan dosen. Suasana hangat dan penuh semangat kolaboratif mewarnai seluruh rangkaian kegiatan yang kemudian ditutup dengan ramah tamah dan diskusi tindak lanjut antar seluruh pemangku kepentingan.

Dengan semangat gotong royong, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen terhadap keberlanjutan, UNISLA dan Desa Tunggul telah memulai langkah strategis untuk menyulam masa depan Lamongan yang lebih hijau, produktif, dan berdampak.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kampus bisa hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai pusat ilmu, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial dan ekologis.(Bs)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2