Sementara itu, data dari Stasiun Lava93 menunjukkan pola yang relatif konstan.
Pemantauan deformasi dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan bentuk tubuh gunung yang dapat berkaitan dengan dinamika di dalam sistem vulkanik. Data tersebut kemudian dianalisis bersama parameter kegempaan, visual, dan pengamatan lainnya.
Hasil evaluasi seluruh parameter tersebut membuat Badan Geologi masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Berakhirnya episode erupsi menerus tidak berarti risiko erupsi telah hilang. Badan Geologi masih memperkirakan kemungkinan terjadinya letusan pada periode berikutnya tetap tinggi.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan berhentinya erupsi menerus sebagai tanda bahwa Gunung Anak Krakatau sudah aman untuk didekati.
Rekomendasi keselamatan masih diberlakukan. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati ataupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Pembatasan tersebut bertujuan mengantisipasi potensi bahaya akibat aktivitas erupsi, termasuk lontaran material vulkanik dan hujan abu.
Badan Geologi juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Perubahan status maupun rekomendasi akan disesuaikan dengan hasil evaluasi apabila terdapat perkembangan signifikan.
Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan perubahan visual atau berhentinya erupsi menerus.
Aktivitas gunung api dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif cepat. Oleh karena itu, informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau sebaiknya merujuk pada laporan resmi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta arahan pemerintah daerah dan instansi kebencanaan.
Dengan episode erupsi menerus yang telah berakhir, Gunung Anak Krakatau kini kembali menunjukkan pola erupsi strombolian. Namun, status Level III atau Siaga tetap berlaku karena potensi letusan susulan masih tinggi.
Bagi masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan membutuhkan kewaspadaan. Mematuhi radius aman serta mengikuti informasi resmi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat.





