BERITASIBER.COM | JEPARA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU), Whasfi Velasufah, menekankan pentingnya edukasi digital sejak dini dan perlunya regulasi yang lebih tegas untuk mencegah kekerasan berbasis gender online (KBGO).
Pernyataan ini disampaikan menyusul terungkapnya kasus kekerasan berbasis gender online yang melibatkan tersangka berinisial S (21) di Jepara, Jawa Tengah, yang diduga telah melakukan kekerasan terhadap setidaknya 31 anak perempuan berusia antara 12 hingga 18 tahun.
Vela mengungkapkan keprihatinannya terhadap maraknya KBGO yang menjadi ancaman serius bagi generasi muda, terutama bagi anak-anak yang belum memiliki bekal literasi digital yang memadai.
“Usia pelajar ke bawah itu karakternya belum terbentuk sehingga menjadi sasaran empuk untuk jadi korban. Saya sangat prihatin dan ini harus kita advokasi dan dampingi,” ujarnya pada Sabtu (3/5/2025).
Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran akan bahaya dan risiko yang ada di dunia maya.
“Kejahatan dari efek teknologi itu nyata. Kita harus benar-benar membentengi diri. Literasinya harus ditingkatkan,” tambahnya.
Vela juga menekankan pentingnya edukasi sejak dini agar anak-anak dapat mengenali rambu-rambu bahaya dalam pergaulan digital, termasuk menjaga privasi dan berhati-hati saat berinteraksi dengan orang yang baru dikenal melalui media sosial.
“Foto pribadi itu harus dijaga. Modus chat dan penipuan online juga harus diwaspadai. Kalau kenalan sama orang baru, apalagi di medsos, itu harus hati-hati,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa media sosial membuka peluang interaksi yang luas, namun tidak selalu aman.
“Sosmed ini kan bukan cuma untuk berinteraksi sama orang yang kita kenal. Kadang orang yang enggak kita kenal bisa masuk dan itu berbahaya kalau enggak disharing,” tambahnya.
Vela juga menyoroti pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar, di mana teman sebaya dapat menjadi ruang aman bagi anak untuk berbagi, terutama saat orang tua tidak dapat dijangkau.
“Kadang anak-anak itu lebih nyaman cerita sama teman seumurannya. Maka pencegahan ini harus jadi kerja bareng,” ujarnya.





