“Penutupan pintu air Kuro dilakukan karena ketinggian air Bengawan Solo lebih tinggi dibandingkan Sungai Blawi. Jika pintu dibuka, justru berisiko air kembali masuk ke wilayah Lamongan,” jelasnya.
Meski pintu air Kuro ditutup, BPBD memastikan langkah antisipasi tetap berjalan. Empat unit pompa utama di Melik dan Kuro serta pintu air di Tambakombo tetap dioperasikan secara bergantian, menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Kami terus melakukan antisipasi. Pompa di Melik, Kuro, dan pintu air Tambakombo tetap difungsikan sesuai kebutuhan,” tambahnya.
Selain fokus pada penanganan teknis, BPBD Lamongan juga memperhatikan aspek kesehatan warga. Bersama Dinas Kesehatan, BPBD membuka layanan kesehatan gratis bagi masyarakat terdampak banjir dengan menyiagakan pos pelayanan kesehatan desa.
“Kami membuka pos pelayanan kesehatan gratis di wilayah Kuro dan sekitarnya setiap hari, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan,” pungkas M. Naim.
BPBD Lamongan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan dan debit sungai masih berfluktuasi. Pemerintah daerah memastikan upaya penanganan dan pelayanan kepada warga terdampak akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar normal.





