BERITASIBER.COM | LAMONGAN — Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan menyebabkan dampak cukup signifikan terhadap sektor pertanian dan perikanan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan mencatat, genangan air paling parah terjadi di lima kecamatan, yakni Deket, Kalitengah, Turi, Karangbinangun, serta beberapa wilayah sekitarnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, M. Naim, menyampaikan bahwa luas lahan pertanian dan tambak yang terdampak banjir mencapai sekitar 12 ribu hektare. Akibatnya, kerugian material yang dialami petani dan pembudidaya ikan diperkirakan mencapai Rp4 miliar.
“Dampak banjir cukup luas di lima kecamatan tersebut. Sawah dan tambak yang tergenang kurang lebih mencapai 12 ribu hektare, dengan estimasi kerugian sekitar Rp4 miliar,” ujar M. Naim, Sabtu (10/1/2026).
Ia menjelaskan, BPBD Lamongan bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan terus melakukan langkah-langkah penanganan darurat dan mitigasi guna meminimalkan dampak lanjutan akibat banjir. Sejumlah bantuan logistik telah disalurkan kepada warga terdampak melalui koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kami berupaya maksimal dalam penanganan banjir ini. Bantuan dari Pemkab Lamongan sudah disalurkan kepada warga terdampak, dan kami terus berkoordinasi dengan berbagai OPD terkait,” ungkapnya.
Dalam upaya teknis pengendalian banjir, BPBD Lamongan juga bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA). Seluruh pompa air di sejumlah titik strategis telah diaktifkan untuk mempercepat surutnya genangan.
Namun demikian, M. Naim mengakui bahwa tingginya debit air Bengawan Solo menjadi salah satu kendala utama. Kondisi tersebut memaksa pihak terkait menutup sementara pintu air Kuro pada Kamis malam (8/1/2026).





