Dalam satu kali pengiriman, pesanan dari luar daerah dapat mencapai puluhan karung. Namun demikian, Sulistiyowati mengakui bahwa permintaan bersifat fluktuatif, bergantung pada kondisi pasar dan kebutuhan distributor.
Kenaikan harga beras dalam beberapa waktu terakhir turut mendorong minat masyarakat terhadap pangan alternatif berbahan jagung. Meski demikian, meningkatnya jumlah produsen nasi ampok membuat pertumbuhan penjualan tidak terlalu signifikan.
“Peningkatannya sekitar 10 persen. Biasanya permintaan 3–5 karung, sekarang bisa 6–10 karung,” jelasnya.
Produk nasi ampok instan ini dipasarkan dengan harga terjangkau. Kemasan 120 gram dijual seharga Rp2.000, sedangkan kemasan 140 gram dibanderol Rp2.500. Produk umumnya dipasarkan dalam jumlah besar melalui distributor ke berbagai daerah.
Dari usaha yang telah berjalan lebih dari satu dekade tersebut, Sulistiyowati mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp5 juta per bulan. Ketersediaan bahan baku jagung juga relatif aman dan tidak menjadi kendala dalam proses produksi.
“Alhamdulillah, jagung selalu tersedia. Selama ini tidak pernah kekurangan bahan baku,” pungkasnya.
Keberhasilan Nasi Ampok Instan Dua Putra menjadi contoh bahwa inovasi pada pangan lokal tidak hanya mampu menjaga warisan kuliner daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi pelaku UMKM serta memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal.





