Selain perpustakaan, tim BPK juga mengunjungi area kompleks Zawiyah yang masih menyimpan sisa struktur benteng pertahanan Tanoh Abee. Pada masa kolonial, wilayah ini dikenal sebagai pusat perlawanan ulama dan masyarakat Aceh terhadap penjajahan Belanda serta Jepang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Jejak arsitektur pertahanan yang masih terlihat menunjukkan betapa pentingnya Tanoh Abee sebagai pusat strategi dan pendidikan keagamaan di masa lalu.

Kunjungan turut dilanjutkan ke Rumah Adat Aceh milik Abu Muhammad Dahlan Tanoh Abee, atau Teungku Chik Tanoh Abee ke-9. Bangunan kayu tradisional tersebut menampilkan ukiran khas, komposisi warna, serta struktur arsitektur yang mencerminkan jati diri budaya Aceh.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bagian dalam rumah masih mempertahankan ciri-ciri asli, menjadikannya salah satu contoh utuh arsitektur adat yang perlu terus dijaga.

Menurut BPK Wilayah I Aceh, kegiatan kunjungan ini bertujuan memperkuat kerja sama dengan pengelola Zawiyah Tanoh Abee, terutama dalam pendokumentasian, pelindungan, dan revitalisasi warisan budaya serta ilmu pengetahuan tradisional.

Piet Rusdi menegaskan bahwa pelestarian manuskrip dan situs budaya Aceh memerlukan sinergi pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat untuk memastikan khazanah tersebut tetap terjaga bagi generasi mendatang.(*)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2