“Hari ini kita canangkan GAS PAK CAMAT. Mengapa fokusnya pada cabai dan tomat? Karena data menunjukkan komoditas inilah yang menyebabkan fluktuasi inflasi pangan di Lamongan. Dengan menanam sendiri di pekarangan rumah, masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar,” ujar Pak Yes.
Lebih lanjut, Pak Yes optimistis bahwa gerakan ini akan membawa dampak ekonomi yang nyata bagi keluarga. Ia mencontohkan keberhasilan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Kadis KPP), Mugito, yang telah membuktikan bahwa menanam cabai di media tanam sederhana seperti galon bekas pun dapat menghasilkan panen yang mencukupi kebutuhan rumah tangga selama berbulan-bulan.
“Ini adalah hal kecil yang sederhana, namun jika dilakukan sebagai sebuah gerakan serentak secara masif, tentu akan menghasilkan output yang luar biasa bagi stabilitas harga pangan di Lamongan. Tujuannya agar masyarakat mulai terbiasa mengoptimalkan lahan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi,” tambahnya.
Melalui program GAS PAK CAMAT, Pemkab Lamongan tidak hanya menyasar aspek pengendalian inflasi, tetapi juga mendorong transformasi pola pikir masyarakat agar lebih mandiri. Gerakan ini diharapkan menjadi pemicu bagi warga untuk terus membudidayakan tanaman hortikultura secara berkelanjutan.
Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Lamongan diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan meski di tengah tantangan ekonomi global, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan pangan yang sehat dan bergizi langsung dari pekarangan rumah warga.





