Selain pengaturan pintu air, upaya teknis di lapangan juga diperkuat dengan pengerahan dua unit alat berat amfibi. Satu unit difokuskan untuk pengerukan sedimen di hilir Pintu Lak Kuro bagian selatan, yang selama ini menjadi salah satu hambatan aliran air.
“Sementara satu unit lainnya digunakan untuk pembersihan enceng gondok di sekitar Jembatan Pasi, guna memastikan aliran air tetap lancar tanpa sumbatan vegetasi air,” ungkapnya.
Dari sisi hulu, Saikhu menjelaskan koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi. Sebagai langkah pengendalian debit air yang masuk ke Bengawan Jero, dilakukan pengurangan pembuangan air dari waduk serta rawa-rawa di wilayah barat dan selatan.
“Langkah ini dinilai penting untuk menekan tambahan volume air ke sistem Bengawan Solo bagian tengah dan hilir,” imbuhnya.
Berdasarkan data pemantauan terbaru, elevasi air di Bengawan Jero pada hari ini tercatat berada di angka 0,72 meter, mengalami penurunan sekitar 3 sentimeter dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini menjadi indikasi awal bahwa langkah-langkah pengendalian yang dilakukan mulai menunjukkan hasil positif.
“Diharapkan, dengan dibukanya Pintu Lak Kuro serta optimalisasi jalur pembuangan air melalui penataan sedimen dan pembersihan sungai, penurunan muka air banjir di Bengawan Jero dapat berlangsung lebih cepat dan signifikan,” kata Saikhu.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lamongan, Mohammad Nalikan, menyampaikan rasa syukurnya atas kondisi teknis yang memungkinkan pintu air tersebut dioperasikan secara maksimal pada hari ini.
Nalikan juga berharap agar kondisi tinggi air di bagian hilir tetap stabil sehingga pintu air dapat terus dibuka untuk mengalirkan sisa genangan menuju laut.
“Semoga (Pintu Air Kuro) bisa terus dibuka agar debit air di kawasan permukiman dan lahan pertanian warga bisa segera normal kembali,” pungkasnya.






