“Adalah tanggung-jawab umat untuk menerapkan prinsip-prinsip itu sesuai konteks masing-masing. Pilihan pribadi itu dihargai, apa pun pilihannya, termasuk untuk menjadi golput,” papar Romo Yohanes.
Hal itu pun tidak berarti bahwa Gereja Katolik menutup mata dari kekurangan-kekurangan yang ada pada partai maupun calonnya.
“Artinya, kalau toh kriteria maksimal tidak bisa diterapkan, kriteria minimal pun cukup, supaya proses hidup bermasyarakat dan berbangsa ini bisa berjalan. Secara kongkret hal ini berarti bahwa jika toh tidak ada partai dan/atau calon yang memenuhi kriteria, cukuplah dipilih yang relatif lebih baik dari yang lain. Prinsip minus malum, atau memilih yang lebih baik dari antara yang ‘buruk, ’lalu diterapkan, dengan suatu harapan bahwa perbaikan kehidupan politik bisa dilaksanakan sedikit demi sedikit,” ungkap Romo Yohanes.
Prinsip politik Katolik mengacu pada tujuan kesejahteraan bersama dan menghargai martabat pribadi dengan kebebasannya.
“Dalam konteks ini politik masuk dalam kategori yang tidak pasti, sehingga kebebasan pendapat sangat dijunjung tinggi, asal bertanggung-jawab,” katanya.
Romo Yohanes berpesan, agar Balon Wawako Yogyakarta Ariyanto langsung bertemu dengan para Romo di beberapa gereja Katolik di Yogyakarta, untuk menampung atau menjemput aspirasi umat Katolik.
“Silahkan bertemu dan berdialog dengan para room atau pengurus Gereja Katolik di Yogyakarta, artinya jemput aspirasi. Aspirasi itu bisa menjadi acuan atau dasar dalam penyusunan program calon itu sendiri, sehingga para umat Katolik kelak bisa memilih siapa diantara para calonnya yang layak sebagai pemimpin sesuai kriteria yang saya sampaikan diatas,” pungkas Romo Yohanes.(wira)
Editor : Achmad Bisri






