Sementara itu Kepala MTs Al-Khoiriyah 1 Dalegan, Fathul Arif, S.Si., menyambut baik kegiatan yang dirasakan banyak manfaat tersebut. Ia mengungkapkan bahwa selama ini sebagian besar guru masih mengandalkan metode ceramah dengan media papan tulis dan Lembar Kerja Siswa (LKS) cetak.
“Selama ini guru masih banyak menggunakan metode konvensional seperti ceramah dan LKS cetak. Fasilitas papan digital interaktif hanya digunakan sebatas menampilkan video YouTube,” ujar Fathul Arif, S.Si.,
Dengan pelatihan ini, para guru mulai mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar-mengajar. Tak hanya membuat modul, mereka juga langsung menguji coba hasilnya di dalam kelas, memanfaatkan papan digital interaktif untuk menampilkan materi ajar dengan cara yang lebih visual dan menarik.
Para peserta workshop tampak antusias dan aktif dalam sesi praktik langsung, mulai dari pembuatan materi hingga pengemasan ke dalam platform flip book. Sebagian guru mengaku awalnya merasa kesulitan, namun setelah mendapat pendampingan, mereka lebih percaya diri menyusun modul pembelajaran digital.
“Anak-anak terlihat lebih tertarik. Modulnya bisa diakses lewat HP kapan pun, tidak seperti buku cetak yang jumlahnya terbatas,” ungkap salah satu guru peserta.
Program ini menjadi contoh konkret sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam mengakselerasi adopsi teknologi dalam dunia pendidikan. Universitas Billfath menyatakan komitmennya untuk terus mendampingi sekolah-sekolah mitra dalam transformasi digital.
Dengan adanya workshop dan pendampingan ini, MTs Al-Khoiriyah 1 Dalegan membuktikan bahwa adaptasi teknologi bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah mulai diterapkan secara nyata di lingkungan pendidikan madrasah.(Bs).





