Ia menilai program pengabdian yang dipadukan dengan kegiatan riset menjadi model yang layak dikembangkan di Malaysia. Terlebih, kondisi geografis di beberapa wilayah Malaysia memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Indonesia sehingga inovasi biopori dinilai relevan sebagai salah satu alternatif mitigasi banjir.

“Pendekatan seperti ini sangat menarik. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kuliah, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi. Model seperti ini memiliki peluang besar untuk kami adaptasi di UTHM,” ungkapnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu, Ketua Litbang UNISLA Nur Azizah Afandi menjelaskan, program biopori menjadi salah satu agenda utama dalam pelaksanaan KKN Berdampak tahun ini. Sebanyak 17 desa di Kecamatan Turi menjadi lokasi sosialisasi sekaligus implementasi pembuatan lubang resapan oleh mahasiswa.

Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membuat biopori, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai fungsi, teknik pembuatan, hingga cara memanfaatkan sampah organik sebagai bahan pengomposan alami di dalam lubang biopori.

“Program ini lebih menekankan perubahan perilaku masyarakat. Kami ingin warga memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari rumah sendiri melalui langkah sederhana seperti membuat biopori,” jelasnya.

Nur Azizah menambahkan, sasaran utama edukasi adalah ibu rumah tangga karena memiliki peran penting dalam pengelolaan sampah organik keluarga. Dengan memanfaatkan biopori, limbah organik rumah tangga tidak hanya berkurang, tetapi juga dapat diolah secara alami menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Meski hasilnya tidak dapat dirasakan dalam waktu singkat, ia optimistis keberlanjutan program akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan daya resap tanah, konservasi air, dan pengurangan potensi banjir di wilayah Kecamatan Turi.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Wakil Rektor II Untag Surabaya, Supangat, menilai kolaborasi lintas perguruan tinggi menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat sekaligus memperluas wawasan mahasiswa.

Menurutnya, pengalaman Untag dalam menjalin kerja sama internasional kini dapat diimplementasikan bersama UNISLA melalui kegiatan KKN Berdampak. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan program pengabdian yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lokal, tetapi juga memiliki perspektif global.

“Kami berharap mahasiswa memperoleh pengalaman yang lebih luas melalui kolaborasi ini. Mereka tidak hanya belajar menyelesaikan persoalan di masyarakat, tetapi juga memahami bagaimana kerja sama internasional dapat mendukung lahirnya inovasi yang bermanfaat,” ujarnya.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2