Faktor cuaca turut menjadi kendala. Hujan yang kerap turun pada sore hingga malam hari membuat masyarakat enggan beraktivitas di luar rumah, sekaligus berdampak pada jam operasional pedagang kaki lima.
“Beberapa hari ini hampir setiap sore hujan. Itu sangat berpengaruh ke pembeli,” ujarnya.
Meski demikian, para pedagang masih menaruh harapan pada momen puncak perayaan, khususnya sehari menjelang dan pada malam pergantian tahun. Mereka memilih tetap bertahan hingga 31 Desember dengan harapan terjadi lonjakan pembelian, meski tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Untuk mengantisipasi cuaca yang tidak menentu, sebagian pedagang kini lebih memilih menjual terompet pabrikan berbahan plastik dibandingkan terompet kertas produksi rumahan. Selain lebih awet, terompet plastik dinilai memiliki risiko kerusakan yang lebih rendah meski terkena lembap atau hujan.
Para pedagang berharap, meski perayaan dilakukan secara sederhana, masyarakat tetap meluangkan waktu membeli pernak-pernik sebagai bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru 2026.





