Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga dan tokoh masyarakat sekitar, spanduk protes tersebut diduga kuat berkaitan dengan dibatalkannya turnamen sepak bola antar-desa, yang selama ini rutin digelar sebagai bagian dari rangkaian PHBN Kecamatan Tulakan.
Seorang warga setempat, Islami, yang tinggal di sekitar Pasar Tulakan, menyebutkan bahwa turnamen sepak bola antar-desa merupakan kegiatan tahunan yang sangat dinantikan oleh masyarakat.
“Sepertinya ini bentuk kekecewaan warga ke camat, karena tahun ini tidak ada sepak bola antar-desa. Padahal sudah ada tarikan dana ke PNS, P3K, dan toko-toko untuk kegiatan PHBN. Tapi katanya camat tidak setuju ada sepak bola, jadi dibatalkan,” ungkap Islami.
Lebih lanjut, Islami menambahkan bahwa pembatalan turnamen tersebut tidak hanya berdampak pada hilangnya hiburan bagi warga, tetapi juga memutus tradisi tahunan dan ajang silaturahmi antarwarga desa.
“Itu acara tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Tulakan. Bukan cuma hiburan, tapi juga kesempatan mempererat hubungan antarwarga dan pemuda,” pungkasnya.(Yuan).





