BANDA ACEH, BeritaSiber.com – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) Safaruddin menilai penghargaan yang diterimanya sebagai Kepala Daerah Penggerak Pembangunan Wilayah Barat Selatan Aceh bukan sekadar pencapaian yang patut dirayakan.
Baginya, apresiasi tersebut justru melahirkan tanggung jawab lebih besar untuk membuktikan kepemimpinannya melalui hasil pembangunan yang dirasakan masyarakat.
Safaruddin menerima penghargaan tersebut dalam Malam Anugerah Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh Award 2026 yang digelar di Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Safaruddin, predikat yang diberikan kepadanya harus berbanding lurus dengan kinerja pemerintah daerah. Karena itu, ia mengaku memandang penghargaan tersebut sebagai beban moral yang harus dijawab melalui kerja nyata selama menjalankan amanah sebagai Bupati Aceh Barat Daya.
“Yang pertama, saya malah bukan bangga atas apresiasi ini, tapi bagi saya ini beban. Karena sudah mendapatkan sebuah pencitraan yang harus saya buktikan sesuai dengan realitanya,” kata Safaruddin.
Ia mengatakan kepercayaan dan apresiasi yang diberikan berbagai pihak menjadi pengingat agar dirinya tetap konsisten menjalankan tanggung jawab sebagai kepala daerah. Kepemimpinan, menurut dia, pada akhirnya harus mampu menghadirkan perubahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Safaruddin juga berharap perjalanan kepemimpinannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Aceh. Anak muda dinilainya memiliki energi, semangat, serta potensi besar yang perlu diberikan ruang untuk ikut berkontribusi terhadap kemajuan daerah.
“Mudah-mudahan saya mampu menjaga amanah menjadi pemimpin daerah yang bisa menginspirasi, terutama sekali bagi anak-anak muda di Aceh,” ujarnya.
Dalam membangun Aceh Barat Daya, Safaruddin menegaskan pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri. Keberhasilan pembangunan membutuhkan keterlibatan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha hingga kelompok-kelompok sosial dan generasi muda.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Abdya mengedepankan semangat kebersamaan dan meninggalkan perbedaan yang berpotensi menghambat agenda pembangunan.
“Kita butuh kekuatan bersama, kolaborasi. Kita menghentikan segala bentuk perpecahan dan perbedaan pandangan,” katanya.





