Presiden Prabowo juga menyoroti agenda besar pemerintah dalam mendorong hilirisasi industri nasional. Salah satunya melalui rencana pembukaan 18 proyek hilirisasi strategis oleh Danantara. Proyek-proyek tersebut dinilai membutuhkan dukungan sumber daya manusia unggul, riset aplikatif, serta inovasi berkelanjutan yang hanya dapat dihasilkan melalui peran aktif perguruan tinggi.
Dalam konteks tersebut, kampus diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat penciptaan solusi industri, inkubator teknologi, dan mitra strategis dunia usaha. Presiden menilai bahwa penguatan riset terapan menjadi kunci agar Indonesia mampu keluar dari ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan beralih ke industri bernilai tambah tinggi.
Sebagai bentuk komitmen nyata pemerintah, Mendiktisaintek mengumumkan peningkatan signifikan anggaran riset dan inovasi nasional. Alokasi dana yang sebelumnya sebesar Rp8 triliun akan ditingkatkan menjadi Rp12 triliun. Tambahan anggaran tersebut diarahkan untuk memperkuat riset unggulan, mendorong kolaborasi kampus dengan industri, serta meningkatkan kontribusi para peneliti dan guru besar dalam pembangunan nasional.
Pemerintah berharap, melalui penguatan kebijakan riset dan peningkatan dukungan anggaran, perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak industrialisasi berbasis pengetahuan.
Dengan demikian, hasil riset tidak hanya meningkatkan daya saing bangsa, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan masyarakat dan kemandirian ekonomi nasional.






