Pemerintah saat ini juga terus melakukan langkah progresif untuk memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara sahabat dan tetangga serumpun. Salah satu fokus utamanya adalah menuntaskan sejumlah persoalan perbatasan dan diplomatik bilateral yang telah terkatung-katung selama bertahun-tahun melalui jalur negosiasi yang bermartabat.
“Kekuatan kita adalah persatuan. Indonesia memilih jalan persahabatan dengan semua negara. Kita jalankan politik bebas aktif dengan terhormat, sembari terus menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah bilateral kita dengan negara tetangga demi stabilitas kawasan,” ujar Presiden Prabowo.
Selain membeberkan strategi diplomasi internasional, mantan Danjen Kopassus ini juga memberikan angin segar terkait kondisi ketahanan domestik. Presiden menjamin bahwa di tengah ancaman krisis energi dan pangan yang melanda berbagai belahan dunia, kondisi ketahanan pangan serta pasokan energi Indonesia dipastikan berada dalam status aman dan terkendali.
Optimisme tersebut didasarkan pada melimpahnya kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh bumi Nusantara. Kendati demikian, Presiden mengingatkan bahwa kekayaan tersebut wajib dikelola secara mandiri, berkeadilan, dan berorientasi penuh pada kesejahteraan rakyat keci sebagaimana semangat keadilan sosial yang digaungkan dalam peresmian Museum Marsinah.
Melalui penegasan ini, kunjungan kerja Presiden Prabowo di Nganjuk tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap hak-hak pekerja, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara yang stabil secara domestik, kuat secara ekonomi, dan mandiri dalam menentukan arah politik internasionalnya.





