“Sayangnya, banyak perempuan yang dituntut untuk siap secara instan tanpa ruang untuk beradaptasi, serta memahami transformasi ini secara menyeluruh dan jujur terhadap keraguan dan ketakutan yang mereka rasakan,” tambah Junita.
Psikolog Keluarga, Samanta Elsener, menjelaskan bahwa perjalanan menjadi ibu sering kali dibayangi oleh berbagai tantangan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak perempuan merasa perlu menyembunyikan emosinya karena tekanan sosial.
“Rasa takut atau ketidaksiapan menjadi ibu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk memproses perasaan itu secara jujur dan tanpa penilaian,” kata Samanta.
Samanta menekankan pentingnya menjalani kehamilan dengan kesadaran penuh dan tidak dalam kesendirian. Lingkungan sekitar diharapkan dapat hadir dengan empati dan dukungan.
“Selain dukungan emosional, kampanye ini juga menyoroti pentingnya pemenuhan nutrisi selama periode emas 1.000 hari pertama kehidupan. Peran nutrisi sangat membantu perempuan merasa lebih siap dalam mengambil peran sebagai ibu dan melahirkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.
Kampanye “Siapa Takut Jadi Ibu!” diharapkan dapat memberikan dukungan dan pemahaman yang lebih baik bagi perempuan dalam menjalani proses kehamilan, serta mengubah stigma yang ada di masyarakat mengenai peran ibu.
Dengan demikian, diharapkan perempuan dapat menjalani perjalanan ini dengan lebih percaya diri dan bahagia.(Bs)
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





