“Bahwa Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi budaya timur, adab, sopan santun dan dikenal sebagai masyarakat yang beragama. Terlebih-lebih untuk sektor pariwisata yang mana negara ini dikenal dengan keelokan alam dan keagungan budayanya yang termasyur, bila LGBT terus tumbuh tanpa terkendali, maka dapat dipastikan negara kita kedepan hanya punya nama akan tetapi tatanan budaya dan moral telah rusak oleh fenomena tersebut,” ungkapnya.
Sekarang kita ditantang, sanggupkah kita mempertahankan negara kita sebagai destinasi wisata dunia, bila arus pendukung fenomena tersebut semakin berkembang dan terang-terangan ?
Diakui bahwa untuk menghapus fenomena itu, sangat tidak mudah dan butuh waktu panjang, serta butuh kolaborasi atau kerjasama dari lintas tokoh masyarakat dan sangat urgent adanya edukasi mental, agama,dan kegiatan-kegiatan positif yang berkelanjutan.
Damiasih juga menyoroti perkembangan teknologi yang massif, yang juga dapat dianggap sebagai triger tumbuh subur fenomena tersebut.
“Kita tidak bisa membendung arus laju teknologi, yang jelas generasi muda harapan bangsa ini harus diselamatkan bila tidak ingin negara ini semakin terpuruk dampak dari fenomena tersebut,” pungkasnya. (Wir)





