Pakar astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa secara astronomis, peluang terlihatnya hilal pada petang hari 17 Februari sangat kecil. Posisi bulan yang masih negatif membuat hilal mustahil untuk dirukyat, sehingga bulan Syakban diperkirakan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
“Dengan kondisi tersebut, awal Ramadan secara astronomi sangat berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026,” jelasnya.
Prediksi serupa juga disampaikan oleh Nahdlatul Ulama (NU) melalui Lembaga Falakiyah. NU menilai, berdasarkan data hisab dan imkan rukyat, 1 Ramadan 1447 H kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski demikian, NU tetap menunggu hasil rukyatul hilal sebagai dasar penetapan resmi.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan awal puasa melalui Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025. Dalam maklumat tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi. Sidang Isbat diharapkan dapat menjadi rujukan bersama bagi umat Islam dalam mempersiapkan ibadah Ramadan secara khusyuk, tertib, dan penuh kebersamaan.






