BERITASIBER.COM | LAMONGAN – Desa Jatirejo kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui sebuah kegiatan pelatihan yang menggabungkan penguatan soft skill dan pengembangan home industri.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Soft Skill dan Pengembangan Home Industri Sebagai Upaya Maksimalisasi Potensi Desa terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat Desa Jatirejo” ini menghadirkan narasumber utama, Dr. Nurul Badriyah, S.E., M.M, yang memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi peluang ekonomi nyata.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis 22 September 2022 tersebut disambut dengan antusias oleh masyarakat yang terdiri dari kelompok ibu-ibu, pemuda, serta para pelaku UMKM desa. Kepala Desa Jatirejo, Sutrisno, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya memaksimalkan hasil alam desa.
“Selama ini, hasil bumi kita sering dijual mentah atau setengah jadi dengan harga yang pasaran. Melalui pelatihan ini, kami ingin mengubah pola pikir. Bahan baku yang ada harus kita olah, kemas dengan baik, dan dipasarkan secara lebih luas. Ini adalah upaya strategis untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga di desa,” ujarnya dengan penuh optimisme.
Pelatihan ini terbagi menjadi dua fokus utama yang saling melengkapi. Pertama adalah Pelatihan Soft Skill dengan materi manajemen keuangan sederhana, komunikasi efektif, hingga pemasaran digital.
Masyarakat diberikan pemahaman tentang pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran usaha secara sistematis, sehingga mereka dapat menentukan profit, efisiensi biaya, dan langkah pengembangan usaha secara lebih terukur.
Selain itu, peserta juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam menawarkan produk, melayani pelanggan, dan membangun hubungan bisnis.
Bagian pemasaran digital menjadi salah satu materi yang paling diminati peserta. Dalam era digital seperti saat ini, pemasaran melalui media sosial dan marketplace dinilai sebagai kunci utama penjualan produk desa bisa dikenal lebih luas, bahkan hingga keluar daerah. Para peserta diperkenalkan cara membuat akun toko online, mengatur tampilan produk, hingga melakukan interaksi yang efektif dengan calon pembeli.
Fokus kedua adalah Pelatihan Pengembangan Produk Home Industri. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pendampingan langsung untuk mengolah produk unggulan desa.
Kelompok ibu-ibu dilatih untuk membuat berbagai inovasi kuliner rumahan yang memiliki nilai jual tinggi. Produk unggulan yang dikembangkan antara lain keripik pisang aneka rasa, dodol singkong (getuk) dengan tekstur lembut dan daya tahan lebih lama, serta minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) yang memiliki pasar cukup luas terutama untuk kebutuhan kesehatan dan kecantikan.
Setiap proses dimulai dari pemilihan bahan baku, teknik pengolahan yang higienis, hingga cara pengemasan modern agar produk tampak lebih profesional dan mampu bersaing dengan produk industri besar. Para peserta diajak untuk memahami bahwa kualitas produk harus menjadi prioritas utama agar konsumen merasa puas dan mau melakukan pembelian ulang.
Sementara itu, kelompok pemuda desa mendapatkan pelatihan yang lebih kreatif dan inovatif. Mereka diajarkan teknik menganyam bambu menjadi berbagai produk bernilai jual tinggi, seperti lampu hias, tas, hingga wadah serbaguna.
Pelatihan ini tidak hanya mengasah keterampilan tangan, tetapi juga memperkenalkan peluang pasar yang potensial, terutama untuk segmen dekorasi rumah dan produk kerajinan etnik yang kini semakin diminati.





