“Ini snack macam apa kalau hanya segini? Katanya makan bergizi, tapi isinya lebih banyak jajanan ringan. Apakah tidak ada evaluasi khusus selama Ramadan?” tulisnya.
Keluhan serupa juga ramai disampaikan di kolom komentar media sosial. Warganet mempertanyakan apakah menu tersebut merupakan standar nasional atau hanya diterapkan di wilayah tertentu. Mereka berharap ada penjelasan resmi dari pihak terkait agar tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat.
Sebagian warga menilai, Ramadan justru menjadi momentum penting untuk memastikan asupan gizi anak tetap terpenuhi. Meski siswa berpuasa, mereka tetap menjalani aktivitas belajar sehingga membutuhkan asupan nutrisi yang cukup saat berbuka.
“Harusnya menunya lebih berkualitas, bukan sekadar formalitas. Anak-anak tetap butuh energi dan gizi,” tulis warganet lainnya.
Program MBG sendiri bertujuan meningkatkan status gizi pelajar, menekan angka stunting, serta mendukung konsentrasi belajar. Namun, minimnya transparansi anggaran dan pengawasan kualitas di lapangan dinilai berpotensi menggerus kepercayaan publik.
Hingga berita ini diturunkan, pihak dinas terkait di DIY belum memberikan keterangan resmi mengenai standar menu MBG selama Ramadan. Masyarakat berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar program strategis ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi siswa, bukan sekadar menjadi agenda seremonial.





