“Jika mengacu pada perhitungan tersebut, posisi hilal masih negatif atau di bawah horizon, sehingga kemungkinan besar tidak dapat teramati,” jelasnya.

Meski demikian, NU tetap berkomitmen melaksanakan rukyatul hilal sebagai bagian dari tradisi ilmiah dan keagamaan. Hasil pengamatan dari seluruh titik nantinya akan dilaporkan secara berjenjang ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kementerian Agama untuk menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Rukyatul hilal di Jawa Timur akan dilakukan di sejumlah lokasi strategis, di antaranya kawasan pesisir seperti Pantai Kenjeran Surabaya, Pantai Gebang Bangkalan, Pantai Bawean Gresik, serta titik-titik pengamatan di daerah perbukitan dan dataran tinggi yang memiliki horizon barat terbuka.

Menurut Syamsul, pemilihan banyak titik pengamatan bertujuan memperbesar peluang visibilitas hilal sekaligus memastikan keakuratan data.

“Semakin banyak titik, semakin lengkap data observasi yang kita miliki. Ini penting untuk validasi hasil hisab dan laporan rukyat,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Ia juga mengimbau agar umat Islam menyikapi potensi perbedaan awal Ramadan dengan sikap dewasa, saling menghormati, dan menjaga ukhuwah.

“Perbedaan adalah bagian dari dinamika ijtihad. Yang terpenting, semangat menyambut Ramadan dengan penuh keikhlasan dan persiapan spiritual tetap menjadi prioritas utama,” pungkasnya.

Dengan kondisi astronomi yang ada, besar kemungkinan awal Ramadan 1447 H di Indonesia jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun, kepastian tetap menunggu hasil rukyatul hilal dan keputusan sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama RI.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2