“Tanggal 26 Juli kemarin adalah hari mangrove dunia. Ini menjadi penting karena mangrove bisa menyerap karbon dioksida sampai lima kali lebih besar. Artinya mangrove juga bisa membantu bagaimana produksi oksigen lima kali lebih banyak,” imbuhnya.
Lebih lanjut Khofifah mengatakan, selain kegiatan penanaman mangrove, ia juga menginisiasi kegiatan Festival Mangrove. Dimana, kegiatannya tidak hanya penanaman mangrove tapi berbagai aktivitas menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Bagaimana upaya menyejahterakan masyarakat lewat hilirisasi berbagai produk mangrove. Ada batik, tepung, sirup, dan berbagai produk makanan dan minuman lainnya. Bahkan beberapa waktu lalu saat pertemuan KTT G20 di Bali, salah satu souvenirnya adalah batik dari pewarna mangrove,” katanya.
Ia berharap, hilirisasi produk mangrove ini bisa lebih disebarluaskan lagi. Sehingga masyarakat mengetahui bila mangrove dibudidayakan secara lebih masif, maka nilai tambahnya akan lebih tinggi lagi.
“Membangun komitmen ini dibutuhkan di semua lini supaya kita bisa menjaga kelestarian dari mangrove kita dan seluruh habitat yang ada di lingkungan hutan mangrove terus terjaga,” katanya.
“Kita bersyukur masyarakat Jawa Timur memiliki tingkat partisipasi yang luar biasa untuk melakukan gerakan shodaqoh oksigen ini. Oleh karena itu, apa yang menjadi kekuatan untuk bisa bersama-sama menanam dan memelihara hutan mangrove termasuk habitat di dalamnya, adalah upaya kita untuk menjaga ekosistem mangrove,” pungkasnya.
Editor : Achmad Bisri
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.comĀ






