Dalam homilinya, Mgr. Agustinus mengajak umat untuk mengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan singkat, dan kita dipanggil untuk membuatnya berarti dengan melayani sesama, terutama mereka yang berkekurangan, menderita, atau terpinggirkan.
“Jangan lupa hidup ini perjalanan yang pendek, maka buatlah perjalanan yang pendek ini sungguh-sungguh berarti bagi sesama, khususnya mereka yang berkekurangan dan menderita,” ujarnya.
Liturgi misa dirancang secara inklusif, dengan adanya penerjemah bahasa isyarat, akses fisik yang ramah disabilitas, serta pelibatan aktif umat difabel dalam tugas liturgi. Hal ini menegaskan komitmen Gereja untuk menghadirkan ruang yang aman, setara, dan penuh kasih bagi semua umat.
Perayaan dilanjutkan dengan ramah tamah dan pentas seni inklusif dari kedua kevikepan. Dalam kebersamaan tersebut, sukacita, penerimaan, dan harapan tumbuh dalam satu tubuh Kristus yang hidup.
Yubelium ini menjadi wujud nyata Gereja yang hadir dan melayani tanpa memandang keterbatasan, serta memperkuat panggilan semua umat untuk menjadi saksi kasih dan terang di tengah dunia.
Dengan semangat inklusif ini, diharapkan Gereja dapat terus menjadi tempat yang ramah bagi semua, tanpa terkecuali.(*)
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com





