“Mengajar dengan cinta artinya menghadirkan hati dalam setiap proses pembelajaran. Sementara belajar dengan makna menekankan pada pemahaman yang mendalam dan reflektif,” tutur H. Muhlisin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan deep learning sejalan dengan nilai-nilai Islam yang holistik, karena tidak hanya memperkuat aspek akademik tetapi juga membentuk spiritualitas dan kepedulian sosial siswa.

Lebih lanjut, H. Muhlisin berharap para guru madrasah dapat menjadi “pelita” bagi peserta didiknya yakni sosok yang mencerdaskan, menginspirasi, dan menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Workshop ini tidak hanya diisi dengan sesi penyusunan perangkat ajar, tetapi juga diskusi interaktif tentang strategi pembelajaran bermakna yang menyentuh aspek afektif siswa, serta implementasi Kurikulum Merdeka dengan pendekatan berbasis cinta dan empati.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, KKMTS wilayah Glagah, Karangbinangun, Turi, dan Deket berharap dapat mencetak pendidik yang lebih reflektif, inovatif, dan berdaya saing, serta mampu melahirkan generasi madrasah yang cerdas, berakhlak mulia, dan peduli terhadap sesama.(Bs).

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2