“Kita ini murni warga Kabupaten Pati. Donasi juga murni dari masyarakat. Tidak ada unsur politik atau organisasi,” tegasnya.
Menurut Teguh, kesamaan rasa dan pikiran antara warga dan penggagas aksi membuat penggalangan logistik berjalan lancar tanpa kendala pendanaan.
“Awalnya kami tidak punya anggaran. Tapi sambutannya luar biasa. Warga Pati dan kami satu hati,” ungkapnya.
Pusat tuntutan aksi ini adalah pengunduran diri Bupati Pati, Sudewo, yang dinilai telah ingkar janji, melakukan manipulasi, dan tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil.
“Mayoritas warga Pati ingin pergantian kepemimpinan. Sudewo sudah tidak layak memimpin karena banyak kebijakan yang membebani rakyat kecil,” tandas Teguh.
Meski tensi politik di Kabupaten Pati meningkat menjelang aksi, para penggagas tetap berharap unjuk rasa berjalan damai dan tidak anarkis. Warga diminta menjaga ketertiban dan tidak merusak fasilitas umum.
Aksi ini diperkirakan akan menjadi salah satu unjuk rasa terbesar dalam sejarah Kabupaten Pati. Ribuan warga diperkirakan turun ke jalan, menyuarakan tuntutan mereka dalam solidaritas yang kuat.(*)





