“Kami terus ingatkan agar jamaah tidak keluar tenda di jam terik, karena suhu bisa sangat menyengat dan berisiko menimbulkan heatstroke. Di dalam tenda pun kami pastikan sirkulasi udara cukup dan jamaah tetap terpantau oleh petugas,” tutur Dr. Abid.
Dalam hal konsumsi, beliau memastikan bahwa kebutuhan makanan dan minuman jamaah terpenuhi dengan baik, bahkan cenderung lebih dari cukup. Menu makanan pun disesuaikan dengan cita rasa masakan Indonesia, agar jamaah tetap merasa nyaman dan selera makan terjaga.
“Alhamdulillah logistik konsumsi berjalan baik. Jamaah dari Kloter 59 Lamongan mendapatkan menu masakan khas Indonesia yang mereka kenali, seperti rendang, sayur sop, dan tempe goreng. Ini penting untuk menjaga stamina selama proses ibadah yang cukup menguras tenaga,” tambahnya.
Selain aspek kesehatan, tantangan transportasi juga menjadi perhatian. Proses perpindahan jamaah dari Muzdalifah ke Mina sempat mengalami keterlambatan.
Menurut laporan, sebagian jamaah belum sempat terangkut karena lalu lintas yang sangat padat dan antrean kendaraan yang panjang.
“Kondisi ini menuntut tingkat kesabaran tinggi dari para jamaah. Petugas juga harus ekstra sabar dan tenang dalam mengarahkan mereka, agar tidak terjadi kepanikan atau kelelahan yang berlebihan,” jelas salah satu petugas lapangan.
Namun demikian, semua pihak terus berupaya agar proses transportasi berjalan lancar. Koordinasi dilakukan tidak hanya di level kloter, tetapi juga lintas sektor antara pihak Indonesia dan penyedia layanan Arab Saudi.
Di tengah tantangan yang ada, para petugas haji terus menanamkan semangat bahwa kesabaran merupakan kunci utama untuk meraih predikat haji yang mabrur.
Dr. Abid Muhtarom berpesan kepada seluruh jamaah untuk tetap tenang, patuh pada instruksi, dan tidak tergesa-gesa dalam menjalani setiap tahapan ibadah.
“Haji bukan hanya soal rukun dan wajib yang dilaksanakan, tetapi juga kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi ujian fisik, mental, dan kondisi sekitar. InsyaAllah, dengan niat yang tulus dan kesabaran yang dijaga, seluruh jamaah bisa menjadi haji yang mabrur,” pungkasnya.
Seluruh masyarakat Kabupaten Lamongan, termasuk keluarga para jamaah yang menanti di Tanah Air, terus mengirimkan doa dan dukungan. Pemerintah daerah dan Kementerian Agama setempat pun terus memantau perkembangan melalui laporan harian.
Semoga seluruh jamaah haji dari Kabupaten Lamongan dan seluruh Indonesia diberikan kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji tahun ini.
“Semoga mereka kembali ke Tanah Air dengan membawa predikat haji yang mabrur dan maqbul. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin,” ucapnya.(Bs)





