“Hunian vertikal buat Gen Z punya mimpi di Jakarta Pusat. Lahan-lahan di atas pasar, TOD di stasiun, lahan-lahan di jalan maupun di tengah sungai bisa kita inovasikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Ketidakadilan tata ruang mengakibatkan banjir, yang mana kerugian materiilnya cukup besar,” ungkapnya.

3. Konsep Bangunan yang Bisa Tekan Polisi dan Emisi
Kemudian, Ridwan Kamil menyatakan ingin membangun hunian di tengah kota dan perkantoran di pinggiran. Selain itu, memanfaatkan atap-atap gedung sebagai lahan penghijauan agar efek gas rumah kaca bisa bisa ditekan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Model gedung seperti ini merupakan bagian dari strategi hijau yang sudah berhasil diterapkan di kota Medellin, negara Kolombia.

“Kenapa suhu udara di Jakarta saat ini begitu panas, kenapa terjadi banyak polusi udara? Beberapa faktor penyebabnya adalah kebanyakan gedung, kebanyakan beton, dan kekurangan pohon. Nah, inilah nanti yang akan diimplementasikan dalam program anggaran 1 miliar untuk 1 RW, dimana sebagian penghijauannya akan dilakukan secara serentak oleh 2.700 RW di seluruh Jakarta,” ucapnya.

4. Tolak Retribusi Sampah Rumah Tangga
Terkait pengadaan retribusi sampah rumah tangga mulai 1 Januari 2025, Cawagub nomor urut 1 Suswono menolak hal tersebut.

Sebagai gantinya, ia dan RK akan menerapkan sistem zero waste, dimana melalui sistem ini sampah akan dikelola hanya sampai tingkat RT dan RW saja, serta mengurangi jumlah sampah di TPA.

“Saya sendiri sependapat retribusi ini belum dibutuhkan. Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana membangun budaya zero waste. Inilah yang saya kira perlu ditekankan kepada setiap rumah tangga, bahwa kita juga perlu ada semacam sistem daur ulang. Implementasi untuk budaya zero waste dan sistem daur ulang, saya kira bisa diterapkan untuk skala rumah tangga RT maupun RW,” tandasnya.

Untuk mendukung skema pengelolaan sampah ini, mereka ingin menyediakan mesin pengolahan sampah di tingkat RW.

“Oleh karena itu, nanti kami mengatasi permasalahan itu melalui pengelolaan berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Saya harapkan ada mesin-mesin modern tersedia, sehingga dimungkinkan untuk pengelolaan sampah itu, bisa habis di tingkat RW. Kalaupun ada sisa, sisanya tersebut itu bisa diolah lagi di pembuangan akhir, tetapi dengan volume yang sangat kecil. Jadi intinya bagaimana membangun budaya dari rumah tangga,” pungkasnya mengakhiri pemaparan.

>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2