Selain itu, PJMI juga mengutuk keras praktik kelaparan massal (forced starvation) yang dilakukan Israel terhadap warga sipil Gaza, termasuk jurnalis yang bekerja tanpa perlindungan serta terputus dari akses pangan, listrik, dan informasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Merujuk pada laporan Kementerian Informasi Palestina per 18 Juli 2025, sebanyak 228 jurnalis telah gugur dalam agresi terbaru Israel. Mayoritas dari mereka kehilangan nyawa saat menjalankan tugas peliputan di medan konflik, berupaya menyuarakan kondisi kemanusiaan di tengah kehancuran total.

“Bayangkan, mereka melaporkan kejahatan kemanusiaan di tengah kehancuran, namun kini harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tapi kejahatan terhadap jurnalisme itu sendiri,” tutur Ismail penuh keprihatinan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sebagai langkah strategis, PJMI mengusulkan pembentukan Aliansi Global Jurnalis untuk Palestina, yang fokus pada advokasi perlindungan jurnalis di zona konflik dan penyebaran narasi media yang adil, berimbang, serta bebas dari propaganda bias.

“Kami tidak tinggal diam. Dunia pers harus bersuara. Jika jurnalis dibungkam dengan kekerasan dan peluru, maka kebenaran perlahan ikut terkubur. Ini bukan hanya soal Palestina, tetapi tentang masa depan kemerdekaan pers dunia,” pungkas Ismail.

Rakernas PJMI 2025 juga dirangkai dengan diskusi strategis bertajuk “Tantangan Jurnalis Muslim di Era Disrupsi Digital dan Artificial Intelligent (AI)”.

Diskusi ini mengulas dinamika terbaru yang dihadapi jurnalis Muslim, mulai dari etika peliputan hingga penggunaan AI dalam produksi dan penyebaran informasi.

Acara yang dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai daerah, tokoh media nasional, dan perwakilan lembaga internasional ini menjadi titik tolak baru bagi penguatan jaringan solidaritas jurnalis Muslim Indonesia, khususnya dalam membela isu-isu keumatan dan kemanusiaan global.(*)

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2