“Ini akal-akalan pimpinan-pimpinan BUMN terdahulu harus tanggung jawab. Siap-siap dipanggil Kejaksaan,” tegasnya.

Prabowo juga menjawab skeptisisme publik yang meragukan komitmennya dalam pemberantasan korupsi. Ia menegaskan bahwa tindakan nyata akan berbicara lebih keras daripada pidato di atas podium. “Mereka bilang saya cuma bicara. Tunggu saja di pengadilan,” tambahnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Meski menunjukkan sikap tanpa kompromi, Prabowo sempat mengungkapkan rasa prihatinnya secara personal. Ia mengaku miris melihat tokoh-tokoh yang harus berakhir dengan rompi tahanan dan tangan terborgol. Ia menekankan bahwa dampak korupsi tidak hanya menghancurkan reputasi pelaku, tetapi juga membawa beban moral bagi keluarga.

Namun, rasa iba tersebut tidak menggoyahkan niatnya untuk membenihkan integritas di tubuh perusahaan plat merah. Langkah ini dipandang sebagai upaya “pembersihan” besar-besaran untuk memastikan BUMN benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan segelintir oknum.

Melalui pembentukan Danantara dan penguatan fungsi pengawasan, Presiden Prabowo berharap tata kelola korporasi negara di masa depan akan jauh lebih profesional, transparan, dan akuntabel, sekaligus menutup rapat celah korupsi yang selama ini menggerogoti kekayaan bangsa.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2