Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru dan siswa yang telah bekerja keras mempersiapkan pertunjukan tersebut dengan penuh dedikasi.
Senada dengan itu, Yazid, S.Pd., selaku penanggung jawab tim karnaval, menekankan pentingnya membumikan nilai-nilai sejarah dalam keseharian siswa. Baginya, budaya adalah sarana efektif untuk memperkuat jati diri bangsa, terutama di tengah derasnya arus globalisasi yang sering kali membuat generasi muda asing terhadap sejarah bangsanya sendiri.
“Anak-anak perlu dikenalkan kembali pada akar sejarahnya, dan ini salah satu bentuknya. Mereka tidak hanya menjadi penonton sejarah, tapi juga pelakon dan penjaganya,” tegas Yazid.
Kebanggaan juga dirasakan oleh para siswa yang terlibat langsung. Salah satunya Mada, pemeran Bung Tomo, yang mengaku pengalaman ini menjadi hal tak terlupakan dalam hidupnya.
“Rasanya seperti benar-benar ikut berjuang. Kami belajar banyak dari cerita ini, dan kami bangga bisa mempersembahkannya untuk masyarakat,” ucapnya haru.
Dengan semangat “Darah Juang”, MTs Islamiyah Kembangbahu tak hanya tampil memukau, tetapi juga membawa pesan moral yang kuat: bahwa perjuangan kemerdekaan harus selalu dikenang, dipelajari, dan diteladani oleh generasi penerus. Mereka berharap, pertunjukan ini bisa menjadi pemicu lahirnya lebih banyak kegiatan edukatif berbasis budaya di tingkat lokal.
Di tengah era digital dan informasi yang serba instan, pertunjukan semacam ini menjadi pengingat bahwa cinta tanah air bisa diajarkan melalui seni, disampaikan lewat drama, dan dirasakan lewat semangat para siswa yang berdiri tegak membawakan cerita perjuangan bangsanya.(Bs).






