BERITASIBER.COM | LAMONGAN — Suasana berbeda dan penuh semangat nasionalisme terasa kuat dalam gelaran Karnaval Budaya Kecamatan Kembangbahu tahun ini. Bukan sekadar pawai atau pertunjukan hiburan biasa, sebanyak 87 siswa dan 10 guru dari MTs Islamiyah Kembangbahu berhasil mencuri perhatian publik dengan menampilkan sebuah drama kolosal bertema perjuangan kemerdekaan bertajuk “Darah Juang”.
Digelar pada Sabtu pagi (23/8), drama ini sukses menggugah kesadaran sejarah para penonton yang memadati ruas-ruas jalan utama Kembangbahu. Disusun dengan alur yang kuat dan dikemas dalam bentuk teatrikal jalanan, kisah ini mengangkat peristiwa 10 November di Surabaya, yang menjadi tonggak perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan.
Penampilan ini tak hanya menghidupkan kembali tokoh-tokoh besar bangsa seperti Bung Tomo, Bung Karno, Jenderal Mallaby, hingga KH. Hasyim Asy’ari, tetapi juga menghadirkan gambaran suasana perjuangan kala itu melalui peran warga sipil, tentara kolonial, noni Belanda, hingga pekerja paksa. Keseluruhan lakon diperankan secara total oleh para siswa, dengan dukungan teknis dan pengarahan dari guru-guru pendamping.
Penampilan yang berdurasi sekitar 15 menit ini langsung menyita perhatian warga. Mereka tidak hanya menonton, tetapi juga ikut merekam dan membagikan momen tersebut di media sosial. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu penampilan terbaik sepanjang sejarah karnaval budaya di Kembangbahu.
“Sudah lama kami tidak melihat pertunjukan budaya dengan pesan sejarah sekuat ini. Anak-anak tampil luar biasa, penuh semangat dan penghayatan,” ungkap Bambang, warga Kembangbahu yang turut hadir menonton.
Kepala MTs Islamiyah Kembangbahu, M. Abduh, S.Pd., mengatakan bahwa keikutsertaan madrasah dalam karnaval ini bukan semata-mata untuk hiburan, melainkan sebagai bentuk nyata pendidikan karakter.
“Melalui seni dan drama, siswa bisa memahami sejarah secara mendalam. Ini adalah metode pembelajaran yang menyentuh hati, dan tentu akan lebih membekas dibanding sekadar teori di kelas,” ujarnya.






