“Dengan demikian maka terjaminnya keselamatan arsip statis sebagai kenangan kolektif bangsa dan bahan tanggung jawab bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ungkapnya.

Kurniawan menilai arsip sebagai serpihan-serpihan peristiwa dapat membantu mengingat ingatan dan merekonstruksi kejadian.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Arsip juga merupakan memori yang menjaga pengetahuan, sehingga tidak hilang seiring keterbatasan ingatan manusia.

“Arsip-arsip terkait gempa bumi tahun 2006 yang dipamerkan ini merupakan sebagian kecil dari khasanah arsip gempa bumi sebagai hasil rekaman informasi sekaligus bukti sejarah dari peristiwa yang pernah terjadi,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Arsip Statis, DPAD DIY, Rakhmat Sutopo menambahkan pameran kearsipan tersebut diadakan untuk menyebarkan informasi kegempaan kepada masyarakat serta meningkatkan akses publik terhadap khazanah arsip.

Ada tujuh kategori yang ditampilkan yakni informasi kegempaan, kerusakan, korban, pengungsian, bantuan, relawan dan Jogja Bangkit, dengan total arsip yang dicetak dan dilihat mencapai 33 unit.

“Kami kemas acara ini dengan arsip wisata yang diikuti 25 orang ke Desa Wisata Rumah Teletubbies Domes di Sleman dan titik pusat gempa di Imogiri. Semoga edukasi ini bisa membawa manfaat bagi masyarakat secara luas,” ujar Rakhmat. (WIRA)

 

Editor : Achmad Bisri

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2