Bencana pergerakan tanah terjadi di Kabupaten Wonosobo, berdampak pada 89 kepala keluarga. Sebanyak 19 rumah rusak berat, sementara 66 lainnya berada dalam kondisi terancam. Lima keluarga mengungsi ke rumah kerabat. BPBD setempat terus memantau potensi longsor susulan seiring meningkatnya curah hujan.
Di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, banjir merendam 207 rumah dan berdampak pada 832 jiwa. Warga sempat dievakuasi ke tempat aman, termasuk ke kantor pemasaran perumahan terdekat. Kini, kondisi air telah surut dan warga mulai kembali ke rumah masing-masing.
Di Kota Semarang, genangan banjir masih tersisa di beberapa titik dengan total lebih dari 22 ribu rumah terdampak. Pembersihan dan penyedotan air terus dilakukan oleh tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan.
Adapun banjir bandang di Kabupaten Sukabumi berdampak pada lebih dari 3.000 jiwa, sehingga pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat selama tujuh hari.
Sementara di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, banjir bandang menimpa lebih dari 5.500 jiwa. Air telah surut, namun aktivitas warga belum sepenuhnya normal.
Untuk bencana non-hidrometeorologi, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, dan Kalimantan Tengah menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan pantauan satelit Sipongi per 30 Oktober 2025, tidak ditemukan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Sumatera Selatan, sementara di Riau terpantau 61 hotspot dengan intensitas rendah hingga sedang.
BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD di berbagai daerah dalam penanganan dan pemulihan pascabencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang, mengingat curah hujan di awal November diprediksi masih tinggi.(*)





