“Songkok yang nyaman dan awet sangat dibutuhkan, terutama saat Ramadan ketika intensitas ibadah meningkat. Karena itu, kami tidak mengurangi kualitas meski pesanan banyak,” jelasnya.

Untuk harga, songkok produksi Desa Pengangsalan dipasarkan mulai dari Rp40.000 hingga Rp100.000 per buah, tergantung bahan, tingkat kerumitan motif, serta detail bordir. Harga tersebut dinilai sepadan dengan mutu produk yang dihasilkan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Permintaan tak hanya datang dari wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, dan Malang, tetapi juga merambah kota-kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, hingga sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. Bahkan, sebagian pengrajin mulai merintis pemasaran digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Bagi warga Desa Pengangsalan, Ramadan menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus melestarikan tradisi kerajinan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keuletan dan kekompakan warga dalam mengelola industri rumahan ini menjadikan Pengangsalan sebagai ikon sentra songkok unggulan di Lamongan.

Dengan permintaan yang terus meningkat, para pengrajin berharap dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai pihak dapat semakin memperkuat kapasitas produksi, pemasaran, serta kualitas sumber daya manusia, sehingga industri songkok Pengangsalan mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2