Sementara Sekolah Garuda Transformasi, ditujukan untuk memperkuat sekolah-sekolah unggulan yang sudah ada, seperti SMA Taruna Nusantara (Jawa Tengah) dan SMA Unggul Del (Sumatera Utara), dengan pembaruan kurikulum, pelatihan guru, dan tata kelola modern.
Wakil Menteri Kemdiktisaintek, Prof. Stella Christie, Ph.D., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang digagas Presiden Prabowo. Pemerintah menargetkan 100 Sekolah Garuda hingga 2029, terdiri dari 80 sekolah transformasi dan 20 sekolah baru di seluruh Indonesia.
“Sekolah Garuda adalah model pendidikan masa depan menyeimbangkan kecerdasan akademik, karakter, dan kolaborasi global,” ujar Prof. Stella.
Sekolah Garuda akan menggunakan sistem berasrama dengan kurikulum adaptif berbasis Merdeka Belajar dan pendekatan STEAM (Sains, Teknologi, Engineering, Art, dan Matematika). Program ini menekankan tiga pilar utama Pemerataan kesempatan berprestasi, Pembentukan karakter dan kepemimpinan nasional, Sinergi akademik dan pengabdian masyarakat.
Pemerintah memastikan pembiayaan program ini berjalan inklusif melalui Dana Abadi Pendidikan sebesar Rp1,415 triliun per tahun, yang digunakan untuk beasiswa penuh bagi siswa berprestasi agar pendidikan tetap berkeadilan untuk semua kalangan.
Lia Istifhama menekankan bahwa keberhasilan Sekolah Garuda tidak boleh hanya diukur dari jumlah sekolah, tetapi dari kualitas manusia yang dihasilkan.
“Saya percaya Sekolah Garuda akan menjadi tonggak nyata menuju Indonesia Emas 2045 mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global,” pungkasnya.(*)





