Pada bagian lain, Khotib juga memberi gambaran peluang tentang kompetitifnya para paslon di Pilkada Lamongan ini. Salah satunya, terlihat dari distribusi aneka dukungan segmen demografis seperti gender, suku, agama, usia, tingkat pendidikan, penghasilan dan dapil yang semuanya belum ada yang kokoh merata, tapi masih kompetitif.
Modal lain yang bisa dijadikan dasar terbukanya peluang paslon yang diusung PKB ini adalah tentang alasan publik memilih calon. Kepada Yuhronur, mayoritas lebih karena pertimbangan dianggap sudah berpengalaman.
Tapi, tegas Khotib, alasan yang memilih Ghofur mayoritas karena dipersepsi berkepribadian baik 20,2 persen dan dianggap mampu menyelesaikan masalah 27,9 persen. Sementara, kepada Yuhronur, publik yang menganggap berkepribadian baik itu hanya 9,1 persen. Dan hanya 17,9 persen yang menganggap mampu menyelesaikan masalah.
“Nah, itu modal penting untuk dipilih. Sayangnya, Pak Ghofur masih punya problem pengenalan yang di bawah Pak Yuhronur. Dan peluang juga cukup terbuka pada saat dipotret isu negatif para calon, dimana Pak Yuhronur yang paling banyak isu negatifnya. Bagusnya buat dia, hanya 4,1% yang tahu,” ungkapnya.
Pilkada Lamongan 2024 diprediksi akan berlangsung sengit hingga detik terakhir. Ghofur harus berjuang keras untuk menyalip Yuhronur, dengan fokus pada peningkatan tingkat pengenalan dan kesukaan dirinya di masyarakat.
Peran soft supporter dan isu negatif yang melekat pada Yuhronur Effendi juga menjadi faktor penting dalam pertempuran ini. Di sisi lain, money politik menjadi tantangan tersendiri bagi para calon, dengan potensi pelanggaran dari KPU.
Menurut Khotib, penting bagi kedua paslon untuk memahami kekuatan dan kelemahan masing-masing, serta strategi untuk meraih dukungan dari publik. Pemilih juga perlu mencermati program dan visi misi dari setiap paslon sebelum menentukan pilihan.
>>> Klik berita lainnya di Google News BeritaSiber.Com






