Merespons keraguan itu, Prabowo langsung memberikan instruksi tegas dan tanpa kompromi. Ia meminta lembaga pengawas keuangan negara tersebut untuk mengabaikan faktor kedekatan personal dan terus melanjutkan proses hukum secara transparan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Teruskan pemeriksaan. Kalau ada indikasi, terus periksa. Justru kalau diberi kehormatan, harus dijaga. Jangan merasa adigang, adigung, adiguno (sombong/kuasa), dan merasa negara ini bodoh,” tambahnya lagi.

Guna membuktikan bahwa pernyataannya bukan sekadar retorika politik, Presiden Prabowo menjamin proses penegakan hukum di era pemerintahannya akan berjalan tegak lurus dan tidak pandang bulu. Ia menantang publik untuk mengecek langsung berapa banyak kader dari partai bentukannya sendiri, Partai Gerindra, yang didepak dan ditahan akibat terjerat kasus korupsi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Mau partai saya sendiri, Gerindra, cek berapa yang sudah ditahan. Karena mereka justru harus jadi contoh, jangan malah melakukan penyelewengan,” tegas mantan Danjen Kopassus tersebut yang langsung disambut riuh tepuk tangan warga.

Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Kabupaten Nganjuk kali ini terbilang sangat padat. Selain meresmikan Museum dan Rumah Singgah Ibu Marsinah sebagai bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia dan kaum buruh, Presiden juga meresmikan 1.061 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) se-Indonesia yang dipusatkan di Desa Nglawak, Kecamatan Kertosono.

Dalam lawatan bersejarah ini, Presiden Prabowo tampak didampingi oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subianto. Kombinasi kehadiran para petinggi pengamanan nasional dan tokoh buruh ini mempertegas pesan bahwa negara hadir secara penuh untuk mengawal kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga stabilitas hukum nasional.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2