Selain itu, dilakukan pula upaya modifikasi cuaca untuk menekan intensitas hujan agar tidak memperparah luapan air sungai.
Sementara itu, sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Lamongan tengah menyiapkan Kajian Risiko Bencana (KRB). Dokumen ini menjadi landasan perencanaan penanggulangan bencana secara sistematis dengan mengkaji potensi bahaya, tingkat kerentanan wilayah, serta kapasitas daerah dalam menghadapi bencana.
“Kajian Risiko Bencana ini akan menjadi dasar penting dalam perencanaan pembangunan yang aman dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana,” jelas Mas Dirham.
Camat Deket Suwanto Sastrodiharjo melaporkan bahwa terdapat lima desa di wilayah Kecamatan Deket yang terdampak luapan Bengawan Jero. Salah satu desa dengan genangan cukup tinggi adalah Desa Laladan, dengan ketinggian air mencapai sekitar 45 sentimeter.
Suwanto menambahkan bahwa ketersediaan bantuan logistik dan nonlogistik saat ini dinilai cukup, berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Lamongan, TNI, Polri, serta relawan dan mahasiswa. Distribusi bantuan dilakukan secara terkoordinasi melalui masing-masing desa untuk memastikan ketepatan sasaran.
Dalam kegiatan tersebut, para kepala desa terdampak juga menyampaikan aspirasi dan masukan terkait penanganan banjir. Seluruh aspirasi tersebut dicatat dan akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam merumuskan solusi jangka pendek maupun jangka panjang penanganan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Lamongan.





