Ia menjelaskan, program budidaya Edelweiss memiliki tujuan strategis ganda. Dari sisi konservasi, langkah ini diharapkan dapat menjaga populasi Edelweiss agar tidak terus berkurang akibat pemetikan liar. Sementara dari sisi sosial budaya, budidaya ini dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan bunga Edelweiss sebagai sesajen dalam ritual adat masyarakat Tengger.
“Dengan adanya budidaya, masyarakat tidak perlu lagi mengambil Edelweiss yang tumbuh liar di zona inti taman nasional. Ini penting agar tradisi tetap berjalan tanpa merusak alam,” kata Titiek.
Komisi IV DPR RI menilai pendekatan konservasi berbasis kearifan lokal menjadi kunci keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi. Dukungan terhadap budidaya Edelweiss di TNBTS juga diharapkan dapat menjadi model pelestarian yang dapat diterapkan di kawasan konservasi lainnya di Indonesia.
Ke depan, Komisi IV DPR RI mendorong penguatan kolaborasi antara pengelola taman nasional, pemerintah daerah, serta masyarakat adat agar upaya konservasi tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan budaya secara berkelanjutan.





