Menurut Yuhronur, distribusi air bersih telah dilakukan hampir setiap hari, baik oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Ada di 12 kecamatan sekitar 42 dusun, dan hari ini kita juga banyak menyalurkan air, hampir tiap hari baik dari pemerintah Kabupaten juga dari pemerintah provinsi. Ini Bu Gubernur terjun langsung untuk memberikan bantuan air dan juga bantuan sembako, dan juga menawarkan beberapa solusi termasuk juga mencari sumber-sumber baru, jadi musim kemarau begini masih bisa ada air,” ujar Yuhronur.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sementara itu, salah seorang warga, Titik (30), mengaku terbantu dengan distribusi air tersebut. Sebab, air bersih dibutuhkan untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai memasak hingga mandi.

“Memang kekurangan air, terima kasih Bu Gubernur sudah diberikan bantuan air dan sembako. Kami sangat senang, ini untuk berbagai keperluan rumah tangga, masak, mandi. Kami terbantu sekali,” kata Titik.

Menurut Titik, harga air bersih yang harus dibeli warga juga mengalami kenaikan selama musim kemarau. Air sebanyak 5.000 liter yang sebelumnya dibeli seharga Rp 120 ribu hingga Rp 130 ribu kini mencapai Rp 140 ribu.

Sedangkan air sebanyak 8.000 liter yang sebelumnya sekitar Rp 150 ribu kini naik menjadi Rp 180 ribu.

Pencarian sumber air baru diharapkan dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang sehingga warga di kawasan rawan kekeringan tidak terus bergantung pada dropping air bersih saat musim kemarau.

Artikel Rekomendasi
Halaman:
1 2